Minggu, 21 November 2010

Warna Kehidupan

kehidupan ini warnanya belum sirna
masih tergambar jelas penuh gema
memijak langkah mengikut irama

hidup terkadang pilihan menyulitkan
namun semuanya akan terus berjalan
kaki kiri melangkah diiringi langkah kaki kanan
dan akan terus menjelang
lagipun enggan menanggung beban
pastikan memungut banyak pengalaman

warna kehidupan ini belumlah sirna
melangkahlah
melangkahlah
lukis sebuah keindahan
masa depan

21 November 2010

Jumat, 19 November 2010

Lamunan Terhenti

ketika waktu serasa berhenti detak
dingin mempermainkan sayap-sayapku yang sepi

aku pun terhenti
hanya menunggui sunyi
memandang melati-melati putih menyeri
seraya merasakan kedinginan hari demi hari

19 November 2010

Entah

entah
dalam dekapan rasa
untuk kali ke berapa aku duduk di sini
entah
dalam dekapan rindu
berapa kali lagi aku akan tetap di sini
saat ini
dengan segala asa yang ada
aku masih duduk setia di sini
entah sampai kapan
mungkin
hanya mungkin
sampai aku tidak ada lagi di sini
di tempat ini

tapi entahlah...

19 November 2010

Kamis, 18 November 2010

Harga Mati

aku
telah lama mengenalmu
tetapi aku ingin terus mencintaimu
keinginan itu ibarat harga mati untukku
harga dimana aku harus siap dengan semua kelebihan dan kekuranganmu
aku lama mengenalmu tetapi aku belum mau melepas cintaku
ketidakmauan itu ibarat harga mati dimana aku belum siap memadamkan api cinta ini

18 November 2010

Rabu, 17 November 2010

Lagu Sepi

barangkali ini takdirku
bermalam dalam kehampaan
menyendiri dalam kesepian
menyusuri detik detik masa
sedang rembulan enggan jua menyinar

secangkir kopi dan sebatang rokok
justru seperti mengabadikan sunyi
tak menggunting dingin
mengepungku di puncak keperitan
tanpa getar

barangkali ini takdirku
dalam lengang yang kian mengerucut
malam terasa kian kelam
sedang mentari entah kapan mengirim nyala

inilah lagu sepi yang sempurna

17 November 2010

Senin, 15 November 2010

Kepada Malam

kepada malam
yang kini kembali kujelajah sampai hari dini
yang kembali masih penuh teka-teki
yang kembali menemu senja hari
sebelum jiwanya membelai alunan rindu di hati
menuju indah yang tak mati-mati

karena aku tak berharap untuk merasakan sebuah sepi
kuhadirkan melati
agar aku tak merasa sendiri
kuhadirkan ia dengan lebih lembut
disentuh dan dikecup angin paling sejuk
penuh dengan harapan yang belum jua bernama

karena aku tak berharap untuk merasakan sebuah sunyi
kepada malam kutitipkan melati
ditemani kidung-kidung merdu
menjanjikan
penuh kepastian

adalah harapanku
untuk menghadirkan melati
dan untuk menitipkannya di selimut malam
agar saat esok aku merindukan
aku temukan

15 November 2010

Sepantasnya Kita Bersyukur


saat kita menjalani hidup bersama keluarga dengan penuh senyum dan tawa
di sana masih banyak saudara kita yang menjalani hidup dengan derai air mata
bukankah kita pantas bersyukur atas nikmat Allah yang memberikan kita kebahagiaan?
sudahkah kita bersujud memuji-Nya?

saat kita bisa menimba ilmu sekolah dan belajar dengan nyaman
di sana masih banyak saudara kita yang buta huruf tak tahu apa-apa
bukankah kita pantas bersyukur atas nikmat Allah yang memberikan kita pengetahuan?
adakah kita pelajari ilmu untuk mengingati-Nya?

saat kita bisa makan sepuasnya dan memilih apapun makanan yang kita suka
di sana masih banyak saudara kita yang tidak bisa makan sampai kenyang dan harus makan seadanya
bukankah kita pantas bersyukur atas nikmat Allah yang telah membuat kita kenyang?
sudahkah kita tunaikan sedekah yang dimintai-Nya?

saat anak-anak kita bisa bermain apapun yang mereka suka
di sana masih banyak anak-anak saudara kita yang tak bisa menikmati masa kecilnya
bukankah kita pantas bersyukur atas nikmat Allah yang telah membuat anak kita bahagia?
adakah kita didik anak-anak kita untuk mengenali-Nya?

saat air yang berlimpah kita boleh minum sepuasnya bahkan bermain-main dengannya
di sana seteguk air adalah penyambung nyawa bagi saudara-saudara kita
bukankah kita pantas bersyukur atas nikmat Allah yang telah member kita minum?
adakah kita gunakan lidah kita untuk senantiasa menyebut nama-Nya?

saat kita bisa tidur nyenyak dengan ranjang yang nyaman, bantal yang empuk, dan selimut yang hangat
di sana masih banyak saudara kita yang tidur beralaskan tikar dan tanah
bukankah kita pantas bersyukur atas nikmat Allah yang telah memejamkan mata kita?
adakah kita gunakan mata kita untuk membaca kitab suci-Nya?

saat kita memiliki banyak pakaian yang indah untuk dipakai berganti-ganti
di sana masih banyak saudara-saudara kita yang telanjang
bukankah kita pantas bersyukur atas nikmat Allah yang telah memberi kita pakaian?
adakah kita memakai pakaian takwa saat menghadap-Nya?

saat anak-anak kita tumbuh dengan makanan yang bergizi dan nutrisi yang mencukupi
di sana masih banyak anak-anak saudara kita yang kurus kering karena kurang vitamin
bukankah kita pantas bersyukur atas nikmat Allah yang telah memberi kita kesehatan?
adakah kita pergunakan kesehatan kita untuk banyak beribadah kepada-Nya?

subhanallah…
sudahkah kita bersyukur berucap alhamdulillah?...

15 November 2010

...semoga menjelang hari raya ini, kita sebagai sesama muslim dapat menjadikannya momentum untuk lebih mensyukuri nikmat yang tak terhingga yang telah Allah anugerahkan kepada kita, dan untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya, amin...

Minggu, 14 November 2010

Kembalikan Lagi Senyumku

sekian lama mendung masih di sini
belum permisi tinggalkan pengap di dada
kecewanya hatiku hilangkan relung hati
hampir saja kumati mati rasa padamu

kembalikan lagi senyumku yang manis seperti dulu
kurasa kini aku tertahan
menahan luka yang amat dalam

kembalikan lagi senyumku aku tak betah begini
semenjak hati dan jiwa luka
ku kehilangan senyumku

Melly Goeslaw

Download Melly Goeslaw - Kembalikan Lagi Senyumku (OST Heart 2 Heart).mp3

Sabtu, 13 November 2010

Semarang, 13 November 2010

tiada duga sebelumnya
yang awalnya entah kapan saling jumpa
terasa istimewa dua hari itu seminggu yang lalu
aku akan terus merindukan saat-saat begitu
hari biasa namun berkesan berharga
memang singkat tapi mengikat kenangan

dawai-dawai senja masih terngiang di telinga
masih tergetar di hatiku
walau semua terasa sesaat
sungguh aku menikmatinya

aku menerima semua yang hadir dan yang harus pergi
meskipun kesepian akhirnya datang
namun sungguh aku pun menikmatinya

rindu-rindu dan harapan ini tetap menyala
walau cinta sempat surut dan padam
namun aku masih memiliki hati untuk tumbuhkan kembali

lilin harapan kan selalu di sisi bersama sang waktu
dan aku senantiasa tersenyum
sambut pagi demi pagi
melebarkan sayap hinggapi senja

-Mahadewi Kecil


...terima kasih nota kecil istimewa untukku, semoga lilin-lilin harapan tetap menyala terang seterang niat yang tulus, aku merasa selalu bahagia dengan kedamaian ini...

13 November 2010

Jumat, 12 November 2010

Dawai-dawai Senja

-sepucuk nota kecil untuk mahadewi kecil

genap sepekan sudah aku tinggalkan keramahan kotamu
mungkin sama halnya dengan sepi perasaanmu sejak itu
tapi aku sangat berharap, kau tetap menikmati perjalananmu
memahami liku kehidupan ini
sepertiku, yang sempat tak dapat menikmati hari-hari sebiasanya

tak bisa kuungkap keterpesonaanku di kota yang mengesankan itu
semuanya masih terasa seperti mimpi
masih lekat terasa hingga kini
ia tak pergi seiring berlalunya pagi demi pagi
pun tak hilang

rasakanlah betapa bahagianya aku
bagiku, dua hari itu rasanya seperti sedang berada di sidney
atau mungkin di paris
kenangan yang tak jua kunjung menipis
dan mungkin pula tak akan pernah pudar

dari sini
aku ingin kau tetap nyalakan lilin harapanmu
karena aku yakin
lilin harapan itu yang akan kembali menghidupkan cinta yang sempat padam dan mati

tersenyumlah mahadewi kecilku
damailah selalu di sana

12 November 2010

Rabu, 10 November 2010

Surat dari Iblis

(surat ini akan membuat anda benar-benar berpikir)

aku melihatmu kemarin, saat engkau memulai pekerjaan harianmu, kau bangun tanpa sujud mengerjakan subuhmu, bahkan kemudian, kau juga tidak mengucapkan 'bismillah' sebelum memulai sarapanmu, pun tidak sempat mengerjakan shalat 'isya sebelum berangkat ke tempat tidurmu, kau benar-benar orang yang bersyukur, dan aku menyukainya...

aku tak dapat mengungkapkan betapa bahagianya aku melihatmu tidak merubah cara hidupmu, hai bodoh, sekarang kau adalah millikku, ingat, kau dan aku sudah bertahun-tahun bersama, dan aku masih belum bisa benar-benar mencintaimu, malah aku masih membencimu, karena aku benci Allah...

aku hanya memanfaatkanmu untuk membalas dendamku kepada Allah, Dia sudah mencampakkan diriku dari surga, dan aku akan tetap memperalatnmu sepanjang masa untuk membalaskannya...

kau lihat, Allah menyayangimu, dan dia masih memiliki rencana-rencana untukmu di hari nanti, tapi kau sudah menyerahkan hidupmu padaku, dan aku akan membuat kehidupanmu seperti neraka, sehingga kita bisa selalu bersama-sama, dan ini akan menyakiti hati-Nya...

aku benar-benar berterimakasih padamu, karena aku sudah menunjukkan kepada-Nya siapa yang menjadi pengatur dalam hidupmu untuk masa-masa yang kita jalani, kita akan nonton film bersama, memaki orang, mencuri, berbohong, munafik, makan sekenyang-kenyangnya, bergosip, menghakimi orang, menghujam orang dari belakang, membangkang pada orang tua, tidak menghargai masjid, dan perilaku-perilaku buruk yang lain...

tentunya kau tak ingin meninggalkan ini begitu saja, ayolah bodoh, kita terbakar bersama-sama, selamanya.

aku masih memiliki banyak rencana-rencana hangat untuk kita, ini hanya merupakan surat penghargaanku untukmu, aku ingin mengucapkan terima kasih karena sudah mengijinkanku memanfaatkan hampir semua waktu-waktu dalam hidupmu...

kau memang sangat mudah dibodohi, aku akan menertawakanmu senang, saat kau tergoda berbuat dosa kau menghadiahkanku tawa, dosa-dosa sudah mulai mewarnai hidupmu, kau sudah dua puluh tahun lebih tua, dan sekarang aku perlu darah muda, jadi, pergi dan lanjutkanlah mengajarkan orang-orang muda bagaimana cara berbuat dosa...

yang perlu kau lakukan sekarang adalah merokok, mabuk-mabukan, berbohong, berjudi, bergosip, malas-malasan, dan hiduplah seegois mungkin, lakukan semua ini di depan anak-anak sampai mereka akan menirunya, begitulah anak-anak...

baiklah, aku persilahkan kau bergerak sekarang, aku akan kembali beberapa detik lagi untuk menggodamu, jika kau cukup cerdas, kau akan lari sembunyi, dan bertaubat atas dosa-dosamu, dan hidup untuk Allah dengan sisa umurmu yang tinggal sebentar...

mengingatkan orang bukanlah tabiatku, tapi di usiamu sekarang dan tetap melakukan dosa, sepertinya memang agak aneh, jangan salah sangka, aku masih tetap membencimu, hanya saja kau harus menjadi orang tolol yang lebih baik di mata Allah, hahaha...

jika kau benar-benar menyayangiku juga, kau tak akan pernah menyebarkan surat ini kepada siapa pun...

10 November 2010

Jejak Langkah


telah lama,
biru hati lenyap di musim kembara
masih banyak langkah dan asa
dan berharap kembali penuh cinta
dulu aku buta, telanjang dan lebih hitam
dari warna-warna kehidupan yang paling kelam
satu, dua, dan lebih bahkan
tapi kini,
di sini, tempat di mana aku menemukan banyak mimpi
dengan kesendirian yang kurasa terlalu sunyi
lagi, dengan keharuman wangi bunga melati
kujanjikan untuk tetap tegar berdiri
dalam daur roda kehidupan ini

kupikir,
segalanya memang membutuhkan cinta
dan aku, telah meluruh di dalamnya

10 November 2010

Senin, 08 November 2010

Malam Perpisahan

kemudian adalah malam ini
meninggalkan secangkir kedamaian yang telah lama kukenali
kemudian malamku dihausi rindu
seolah jiwa berontak tak ingin berlalu
kemudian malamku menaburnya lagi dalam secangkir kopi
larut bersama manisnya hari demi hari
yang selalu ingin kureguk kunikmati

akan tetapi,
sajian indah ini sendirinya pergi
entah kapan lagi dapat kutemui

08 November 2010

Semarang Oh Semarang

semarang yang mulai kutinggalkan
menghujani sekian banyak pengalaman
mengguyur deras penuh kenang-kenangan
takkan begitu saja kubiarkan hilang

namun maafkan
jika kedatanganku kali ini
masih menyisakan awan-awan hitam

08 November 2010

Kamis, 04 November 2010

Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana


kau ini bagaimana?
kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kafir

aku harus bagaimana?
kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai

kau ini bagaimana?
kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin plan

aku harus bagaimana?
aku kau suruh maju, aku mau maju kau serimpung kakiku
kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku

kau ini bagaimana?
kau suruh aku takwa, khutbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya

aku harus bagaimana?
aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya
aku kau suruh berdisiplin, kau mencontohkan yang lain

kau ini bagaimana?
kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara setiap saat
kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai

aku harus bagaimana?
aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya
aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya

kau ini bagaimana?
kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah
kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah

aku harus bagaimana?
aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
aku kau suruh bertanggungjawab, kau sendiri terus berucap wallahu a’lam bissawab

kau ini bagaimana?
kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku
kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku

aku harus bagaimana?
aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah kupilih kau bertindak sendiri semaumu
kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu

kau ini bagaimana?
kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis
kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis

aku harus bagaimana?
kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah
kau bilang carikan alternatifnya, aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja

kau ini bagaimana?
aku bilang terserah kau, kau tidak mau
aku bilang terserah kita, kau tak suka
aku bilang terserah aku, kau memakiku

kau ini bagaimana?
atau aku harus bagaimana?

1987
Mustofa Bisri (Gus Mus)

Download Versi Audio