angan berlabuh dalam kesunyian hati tertambat pada kegundahan jiwa berontak ingin lari saat kutemukan diriku di sini pada akhir perjalanan panjang kisah cintaku
setangkai bunga atau sepasang gelas yang berdenting di meja pertemuan kini menjadi kisah manis untuk kita tapi, akankah kisah manis ini terus berlanjut hingga nanti hingga kita berdua membacanya sebagai puisi kenangan?
ketika aku tak butuh senda gurau bersamamu tatap-tatap beku dan senyum-senyum kaku menghujaniku di bawa langit biru meretakkan hati mengobarkan benci tenggelamkan amarah dalam gejolak darah
mawarku benar-benar sudah berubah yang tidak berubah, ia masih cantik senyumnya masih tetap ramah ia juga masih pintar seperti dulu seperti saat pertama aku mengenalnya malah, kini ia tampak makin merekah indah
masihkah rasa cinta bersarang dalam dada, saat kita merasa lapar, merasa sangat haus, sedang kita saling sendirian, dan pernahkah kita rasakan, pada saat yang sama, kerinduan ini melimpahkan kekuatannya?...
seandainya, semua rasa itu sempat menghilang dalam hatimu, mengapa tak segera kau singkirkan segenap ragu, yang menerjang rindu yang tertanam di dadaku?...
seandainya memang, selama ini kau coba menghindar dari cengkeraman keegoanku, katakanlah..., agar aku tak perlu lagi membebani rindu, agar aku lebih mengerti atas sikapmu, yang kerap menghasilkan sebuah rasa yang sangat mengerikan: kekecewaan.....