Senin, 10 Januari 2005

Januari Biru

engkaukah itu, bungaku
kerinduan riuh penuh gemuruh
meniupkan wahyu bahasa kalbu
di sudut jendela biru
nan sunyi dari gerimis lalu

hanya padamu, bunga
aku rindu

10 Januari 2005

Oleh Pesona Matamu

oleh pesona matamu
aku terbenam dalam aliran darah
aku terselip rasa antara suka dan duka
dan aku terbelenggu pusaran rindu
yang memenjarakanku pada terali hatimu
:akan cinta

itulah rasa yang paling sulit kulupa
rasa yang kau bawa dari surga
tertancap deras di dalam dada

10 Januari 2005

Minggu, 09 Januari 2005

Seindah Cinta

saat kumeniti jembatan kasih
sejuta kata kan kuungkap
sejuta kendala kan kulangkah
tuk menggapai impian nyata

betapa sunyi saat hati terlena
bercermin pada bayangan kasih
kala bahagia dalam cinta
kau cipta kenangan di hidupku
laksana lukisan kasih tak tergambar
dalam indahnya impian jingga

09 Januari 2005

Sabtu, 08 Januari 2005

Ungkapan Pada Hatiku

ungkapkan pada hatiku
jika kau resah memaparkan cinta
untuk mengungkapkan rasa
tak boleh ada yang kecewa diantara kita
hingga kita bisa merasa bahagia
bersama cerita-ceritamu

08 Januari 2005

Memaknai Langkah Mentari

pagi...
embun belum kering di hijau rerumputan
sinaran surya lembut menerpa bumi
kau, bersama adikmu melangkah cerah
begitu masuk gerbang sekolah
keceriaan lekat di wajahmu
di wajah kalian

08 Januari 2005

Rabu, 05 Januari 2005

Awal Pertemuan Kita Tahun Ini

perempuan itu menunggu
tak ada lagi deras hujan
langit teduh
tapi benarkah aku sudah kehilangan nadi
perasaanku ketakutan

aku mendekatinya
melangkah setapak-setapak
gemetar
terguncang-guncang
dingin dan kaku
takjib aku menatapinya
tidakkah perempuan itu akan meluapkan jua kebahagiannya
memancarkan bening air cintanya
di tepi ketidakberdayaanku

sungguh,
aku seperti mendapat sebuah kejutan
kebahagiaan muncul tiba-tiba
aroma bunga mawar mengembalikan kesempurnaan hati
seperti sedia kala
yang tak lagi memendam rahasia

05 Januari 2005

Jumat, 31 Desember 2004

Hasanah Cinta

resah meninggalkan tahun
masih tersisa aroma kasih sayang
masih tercium bau-bau kerinduan
di satu dua diari harian
warnai hasanah cinta kita
terbentang demikian indahnya

semoga saja di tahun muka
semakin meluap rasa mesra
yang tumbuh dalam hati kita
karena selama ini telah terlalu banyak waktu
mengambil jarak tak terasa

hanya pada ketulusan dan kehangatan cinta
kita bisa saling bersandar

31 Desember 2004

Kamis, 30 Desember 2004

Tiga Puluh Desember Dua Ribu Empat


mungkinkah aku salah mengartikan semuanya, betapa bodohnya aku yang selalu mengartikan semua perhatianmu adalah cinta, salahkah aku yang saat ini menginginkanmu lebih dari sebelumnya, bahwa aku selalu menginginkan kau coba untuk mengerti akan diriku yang selalu berharap kau ada di sampingku?...

sahabatku,
kutemukan cinta dalam dirimu yang selama ini aku cari-cari, dan itu tak pernah kurasakan sejak ia bawa pergi cintaku ikut terkubur bersama jasadnya, kau kembalikan cinta yang hilang dari hidupku dan tak pernah aku dapatkan dari orang-orang yang dulu pernah menyentuh kehidupanku...

sayangku,
aku bohong kalau aku mengatakan aku takkan pernah menangis saat kau meninggalkanku, aku bohong kalau aku mengatakan aku takkan cemburu saat aku tahu kau mulai memuja perempuan lain, dan aku juga bohong kalau aku mengatakan aku tak pernah merindukanmu...

kekasihku,
sebenarnya apa yang kau rasakan saat kau menyentuh tubuhku, saat ribuan kata sayang pernah kau ucapkan untukku? apa kau bahagia di sampingku? dan sekarang, saat aku jauh dari hidupmu, pernahkah kau rindukan kehadiranku? jawablah, aku tak akan marah walau itu akan melukai hati dan perasaanku, tapi itu lebih baik...

sahabatku,
aku tak ingin kau bersikap seperti ini, kau gantung cintaku, aku ingin sebelum tahun ini berganti, kita selesaikan semuanya, kalau kita ingin lanjutkan, aku ingin semuanya berubah, aku ingin kau yang dulu begitu mengerti akan arti hadirku, tapi kalau pun kita ingin akhiri semuanya, akhirilah ini dengan indah, walau aku tahu semuanya akan begitu menyakitkan hatiku, tapi lebih baik aku merasakan rasa sakit itu daripada aku harus mengemis di kakimu untuk mengharap cintamu, tidak sayang...

tiga tahun bukanlah waktu yang singkat, tapi ternyata tak pernah cukup untuk bisa mengerti dan memahami dirimu, dan selama itu, waktu telah begitu banyak mengukir kenangan manis yang akan membunuhku perlahan-lahan...

apa karena aku pernah bermimpi memilikimu, dan sekarang hari sudah pagi dan sudah saatnya aku bangun dari mimpi panjangku, tapi mengapa saat aku terbangun, tubuhku begitu rapuh seolah tak memiliki sedikit pun semangat untuk tetap hidup, kaulah semangat hidupku, bagian dari jiwaku, dan kaulah nyawa kedua untukku...

sayangku,
jika memang kau ingin pergi, pergilah..., pergilah sejauh yang kau mau, carilah arti dan makna hubungan kita, dan jika kau sudah merasa lelah, kembalilah..., kembalilah dalam pelukanku, aku akan sediakan banyak waktuku untuk menemanimu, dan menghilangkan rasa lelahmu...

jujur aku katakan, aku kecewa, kau hancur leburkan seluruh angan dan cintaku, kau biarkan aku hidup dalam kepalsuan dan buaian belaka, tapi aku bahagia dengan semua itu, begitu angkuhkah kau hingga tak pernah mampu merasakan betapa tulusnya cintaku, tulusnya cinta saat kau permainkan perasaanku berulang dan berulang kali, dan saat aku tahu ternyata hatimu telah dimiliki perempuan lain...

kekasihku,
kucurahkan cinta dan perhatianku hanya untukmu, kukorbankan ego dan keangkuhanku dengan menerimamu apa adanya dalam hidupku, dan melupakan janjiku untuk tak pernah menggantikan tempatnya dalam hatiku, kau penuhi semua ruang di hati ini hingga tak pernah aku biarkan siapa pun memasukinya, dalam dirimu telah kudapatkan semua yang aku butuhkan dalam hidupku, kau sahabat baikku saat aku ingin kau ikut larut dalam kegembiraan dan keceriaanku hari ini...

kaulah sahabatku,
yang akan memapahku dan takkan pernah membiarkan aku terjatuh saat kurasakan tubuh ini begitu rapuh, karena hari ini begitu melelahkan, yang akan menghapus air mataku dan menenangkanku saat gundah mulai merasuki jiwaku...

kau kekasihku,
saat malam ini ingin kutatap indahnya langit ditaburi bintang-bintang bersamamu, memeluk hangatnya tubuhmu, dan lembutnya belaianmu, tak pernahkah kau coba untuk mengerti perasaan hatiku saat aku sadari kau mulai menjauh dari kehidupanku, sementara aku begitu memuja dan menggilaimu?...

malam ini aku inginkan segudang cintamu untuk menghapus segenap kerinduan di hatiku, tapi semua hilang ikut larut dalam gelapnya malam, dan kerinduan itu selalu menghadirkanmu dalam setiap mimpi-mimpiku, dan semua itu semakin menambah perih luka di hatiku...

sahabatku..., kekasihku...,
masih ingatkah kau akan janji kita untuk tetap bersam melewati waktu sampai Tuhan benar-benar tak lagi memberi kita kesempatan untuk bersama? masih ingatkah satu janjimu untuk membahagiakan hidupku, menemani, menjaga, dan melindungiku?...

sayangku,
pejamkanlah sejenak kedua matamu, ingatlah semua hal yang pernah kita lewati bersama, pantaskah aku menerima semua ini atas semua hal yang pernah aku beri untukmu?...

terakhir…
semoga kau di sana baik-baik saja, dan untuk 14 Oktober yang kemarin, selamat ulang tahun, semoga kau panjang umur dan sehat selalu, tambah kedewasaan dan semakin bisa merasakan betapa penting arti dan makna dari orang-orang terdekatmu, aku ucapkan ini sekarang, bukannya aku sengaja melupakan, melainkan di hari spesialmu itu kau selalu menggoreskan sebuah luka di hatiku, karena sikap tak pedulimu...

sekali lagi terima kasih, kuharap surat ini berbalas sebelum tahun berganti, tapi jika tidak, kuharap kita bisa selesaikan ini baik-baik, salam terhangatku untukmu...

-delmie

“Cinta adalah bayangan dan tanda dari sesuatu yang lain yang lebih dalam, cinta ada dalam relung jiwa, ada dalam kesadaran manusia tentang hubungan dengan selain dirinya, dan ia takkan pernah membuat seseorang menderita, karena cinta adalah anugerah...”

Minggu, 26 Desember 2004

Paling Tidak

mawar...
kau pasti pernah merasakan
atau sering merasakan
atau senantiasa merasakan
betapa setiap lelaki yang kau jumpai
akan menyempatkan diri untuk
paling tidak sekedar memandangmu

dan melalui pandangan itu mawar
dia bisa mengagumimu
memujamu
atau bahkan lebih dari itu
berhasrat ingin mencintaimu
memilikimu
menyentuhmu
membelaimu
memelukmu
atau.....

26 Desember 2004

Jumat, 24 Desember 2004

Seharusnya

aku memang tak pernah mengerti
pada saat-saat seperti ini
seharusnya aku tak perlu mengusik hatimu
hati perempuan cantik yang haus akan belaian kasih sayang
tapi mungkin kau memang lebih terpesona padanya
yang telah dengan indah menancapkan anak panah cintanya
tepat di jantung hatimu

barangkali juga, ada dan tiadanya aku
takkan pernah mampu mengubah wajahmu
menjadi semanis kurma

24 Desember 2004

Sabtu, 11 Desember 2004

Kehadiranmu

siang dan malam kau hadir
dalam mimpi-mimpi tiada tara
menghantarkan cintamu yang begitu meluah

sayang,
katakanlah kau adalah milikku
seutuh dan selamanya

11 Desember 2004

Jumat, 10 Desember 2004

Kataku, Aku Rindu Padamu

kataku, aku rindu padamu
sejauh malam tak habis-habis
memakan bayangan dalam cermin
lihatlah... ketika aku rindu
tak kutemukan perapian di sini
aku kedinginan tanpa selimut
lihatlah rembulan tersenyum sunyi
di sekeliling bintang yang terhalau awan

kataku, aku rindu padamu
tak terkecuali senyum indahmu
lihatlah... di sini aku menunggu
di kedalaman malam yang seakan
memaksaku menggigil beku
dapatkah kau rasa harunya kerinduanku?

10 Desember 2004

Rabu, 08 Desember 2004

Sahabat yang Tak Sengaja Kurindui

maafkan aku, sahabat
telah menodai persahabatan kita
aku tak tahu mulai kapan, sahabat
cinta telah bersemi kepadamu

08 Desember 2004

Minggu, 05 Desember 2004

Hiasan Cinta

telah kau jadikan mawar sebagai angan-angan dan harapanku
penghibur jiwaku dengan kelopak-kelopak bunganya
seperti kau hiasi dirimu untukku
beri aku kebahagiaan dalam cinta
singkap semua tirai derita
yang selalu membelenggu kalbu

05 Desember 2004

Selasa, 30 November 2004

Kulepas Kata-Kataku, Kelak Kau Baca Hatiku

jangan kau hirau kata-kataku yang sering lepas seperti dedaun pinus kering di musim panas, gadisku..., aku pun mengeram telur-telur waktu yang tak mungkin tertetaskan dengan keriangan sempurna, barangkali aku melakukan apa yang ingin kulakukan padamu demi kau alami apa yang selama ini kualami...

aku mendaki tebing-tebing kecemasanku begitu kau memanggilku dengan pesona keanggunan tiada taramu saat setiap kali sepi mengepung begini, aku ingin direngkuhmu, aku ingin dipelukmu seumpama kail merindukan kecupan sang ikan...

kulepas kata-kataku…
tuk aku ziarahi lekuk tubuhmu, mencoba menghafal lagi harum miyake, pesona mawar di dadamu, atau untuk mengabarkan sebuah rasa yang pecah di bibir siang, atau untuk mengajak kau pergi, sesekali, melintasi rintik-rintik hujan yang mencuri rindu, lantas menderu ke laut atau ke mana pun kau ingin...

bunga,
ke mana cintaku padamu kau hempaskan, ke mana rindu yang terbawa hujan kau muarakan, jiwa ini kini telanjang sunyi, mendekap seperih-perih luka serta memburu pusaran cinta, jasadku terbaring, bunga..., aku sungguh benar telah kehilangan cintamu…

kulepas kata-kataku...
demi kusemat cinta di ulu hatimu, sebelum duka mengaramkan diriku ke palung paling kelam, sebelum derita datang menunggang gelombang lantas menyetubuhiku, menyusul perih yang merintih sepanjang tarikh...

kelak...
kau akan tahu siapa sebenarnya yang tercinta dalam hatiku, meski kau tak lagi mampu menyentuhku sebagaimana dulu, sayap-sayap cintaku hendak merengkuhmu, mengingatmu kembali untuk kubuat serajut bait merdu, kata-kataku mencari rujukan demi sekedar tautan yang dulu sedemikian erat, aku sedikit menyesal dengan semua ini dan akan berlebih lagi seandai kelak kau terima cincin yang lain...

kelak...
kau akan dapat mengeja sesungguhnya rinduku untuk siapa, meski kau tak lagi menyeru namaku berulang kali dengan desir darah dalam nadi, yakinlah kau akan temukan dirimu sendiri dalam palung hatiku yang paling dasar, betapa kau akan tahu bahwa kau adalah bagian tak terpisahkan dari jiwaku, aku janji itu...

lantas waktu akan kembali mengganti untuk membentuk istana cinta yang abadi, ketika kita telah saling pangling, suatu saat nanti.....

30 November 2004