
kala aku merasa telah separuh berhasil melewati masa-masa kritis hidupku, terbersit niat untuk menutup tahun dengan menulis sebuah tulisan pendek, tanpa ragu lagi, aku mencoba mewujudkannya melalui
Sabda Sepotong Jiwa, namun sepertinya, ini hanya catatan tanpa makna, hanya secuil kisah yang merujuk pada tulisan-tulisan yang pernah kusimpan di sini, dengan sedikit dihiasi puisi-puisi kenangan sepanjang bergulirnya tahun ini
bersamaan dengan berjalannya waktu, semuanya akan menjadi pengalaman yang mengesankan, mengajariku akan arti hidup yang sesungguhnya, mengalir apa adanya, berdamai dengan keadaan, mantapkan hati dengan pasti, menuju tahun baru dengan jutaan mimpi, meski di sisi lain, jutaan hampa bermain-main dalam benak jiwa ini
JANUARIentah untuk kali ke berapa, tahun akan kembali berganti, 2010 telah akan menggugurkan daun-daunnya, banyak jejak kupijak, langkah demi langkah menuntun hingga menemui ujungnya, bahkan kurasa, semuanya berjalan dengan penuh tergesa-gesa, banyak warna terlukis, banyak kisah yang tumpah menghias sepanjang tahun ini, suka dan duka, menggenang hiruk pikuk perasaan, namun sayang, aku telah banyak kehilangan puisi-puisiku di awal tahun, tampaknya terlalu sulit bagiku untuk dapat menemukannya kembali, hanya saja kuberharap selalu, semuanya tetap abadi menghias indah kehidupan ini
FEBRUARIaku adalah aku, ego yang tak akan mampu kubahasakan sebagai sesuatu, yang pada titik lain tak akan ada yang dapat memberi nilai yang sesungguhnya atas sesuatu yang telah terjadi padaku, pun yang akan terjadi nanti
tapi rupanya penderitaanku baru dimulai di bulan ini, bulan yang selama ini selalu kuanggap sebagai bulan paling manis, dan itu terjadi tanpa pernah aku sadari sebelumnya, mungkin
selang tiga puluh menit saja, aku harus memaksa diriku sendiri untuk mampu berucap
selamat jalan, aku memang terlambat membaca, namun
setelah kutahu kau tak harapkan aku lagi, kusadari kau telah benar-benar pergi
MARETberuntung setelah kejadian itu, aku menemukan
sahabat impianku, yang kubayangkan kehadirannya sebagai sebuah keajaiban bagiku, aku menangis
di ujung pertemuan, dan karenanya aku makin sering
berbicara dengan hatiku sendiri, memohon bahwa
aku hanya ingin satu hari lagi denganmukalau saja aku masih bisa bersamamu, sekedar
untuk melihat senyum indahmu, namun sepertinya semua telah tak berharga sama sekali, aku hanya ingin sedikit bercerita
tentang kita, karena kurasa itu bisa benar-benar melekat dalam kenanganku,
aku dan tiga sahabatkuAPRILmenyambut april, aku mencoba membangun
sebuah harapan, di sinilah pertama kali aku menyimpan tulisan-tulisan dan puisi-puisi kenanganku di blog, biasa-biasa saja, hanya bermula karena aku tak ingin kehilangan puisi-puisiku lebih banyak lagi, kebetulan aku
sedang tidak ingin bercinta lagi
putih hitam
gambaran lalu kujadikan
pengalaman, biarkanlah ia berlalu,
berpalinglah..., dengan menautkan puisi-puisiku di sini, aku seperti dituntun untuk menemukan
setitik harap di
jalan gelap, sebelumnya aku tak tahu
ke mana mesti melangkah, namun di ujung perjalanan, tekadku,
teruslah berpuisi, dan
tersenyumlah...
MEIsetelah
detik yang harus kusudahi terlewati,
sebuah harapan tumbuh, aku pergi meninggalkan kampang halaman, sebelum
bunga-bunga berguguran,
perjalanan ini memang
tak pernah menjadi sempurna, namun inilah yang
semestinya kulakukan,
andai pintaku tak berlebihan, kumohon
terimalah seikat kata maafku, untuk terus kulanjutkan merajut mimpi-mimpi
kelak,
bila pelayaranku tiba, pintaku,
biarkan sajak-sajakku yang bicara, bicara
tentang sebilah hati, juga
tentang sebuah kerinduan, karena
seharusnya aku tak merasakan kehilangan, meskipun
dingin dalam
kisah, namun kemudian aku terlalu cepat
terjatuh dalam cinta, dari
rindu yang terbaring di ranjang tidurkudan
untuk perempuan samar, tetaplah menjadi
cahayaku, sedang
senyummu di pelupuk mataku menjadi
cahayamu,
amor vincit omniaJUNIresah dan
gelisah, setengah jalanku di luar kota seperti tak menemui
kepastian, padahal
semuanya telah aku lakukan, tapi mungkin terlalu terburu-buru
aku menginginkan seorang gadis, saat
mengeja rindu di jelang fajar,
rindu tanpa nama, dalam
puisi sepi yang hampir mati di awal hari, lantas kutulis
sajak sebongkah rindu, dari
hembusan rindu di keheningan malam, sepucuk
rinduku di sepanjang jalanku...
JULIseberapa lama lagi aku
menjemput mimpi, semuanya seperti
tiada guna lagi, jiwa meragu, hati diguncang bimbang, setelah
kutemukan rindu kembali,
rindu di celah waktu, rindu yang pernah menjadi
kasidah di padang tandus, rindu yang belum jua habis
mahadewi,
kurenung
dalam hening,
masihkah kau rasakan rinduku memanggil-manggil namamu, sedang aku, di tempat yang lain, selalu,
bayang wajahmu di pelupuk mataku, aku rindu...
AGUSTUSbuat melati,
bunga terindah yang pernah menghiasi hampir separuh usiaku, aku ingin
menulis rindu yang lebih indah untukmu, sebagai
kasidah rindu, karena
aku butuh hangatmu malam ini,
aku ingin menciummu bunga...
jasmine oh jasmine, dalam
meniti hari, kusempatkan diri untuk terus menulisi sajak
sajak kenangan, untuk kujadikan
lagu di sudut kamar, menemaniku di hening malam, karena itu
aku terus saja berpuisi...
SEPTEMBERseptember mengalir,
awalnya mungkin pertanda satu
tangga pendewasaan,
bukankahtelah kutemukan diriku kembali,
aku dalam kata-kata, dan
sesaat lagi,
sebelum malam terakhir, akan kunyatakan
sabda jiwaku yang terlahir
dari hati, bahwa aku
takkan pernah menyerah, dengan mimpi yang
mungkin bisa dikatakan jauh, terlalu jauh bahkan
aku sedikit tahu,
bila kekalahan adalah awal yang mutlak, maka keberhasilan harus menjadi akhir yang mutlak pula,
katakan padaku siapa yang meragukan itu
OKTOBERdi sinilah aku semakin tegar berdiri, semua yang tampak
tak bermakna dalam
kisah yang terbaca, kubuang jauh-jauh, tentu saja tanpa sisa, sebab aku tak ingin
cinta tersia kembali, namun sebaliknya,
kuingin cinta tak sebatas katakau,
menghias
oktober ini menjadi
oktober terindahku, setia temani hari demi hari, bersama
memandang hujan dalam kerinduan, kala
hujan di sela senja, dan
kala tiba malam, kita telah berada
dalam pelukan melatiNOVEMBERselepas oktober pergi,
november bersemi, ia
datang lagi,
sementara aku telah terlalu banyak menghabiskan waktu dengan kata-kata,
kepada malam, saat
malam tersunyi, sebuah
lamunan terhenti, aku selalu menyanyikan
lagu sepi sebagai
warna kehidupan malam-malamku, barangkali sebuah
sajak cinta bunga melati, atau mungkin
sebuah epilog kecil dari
puisi yang tak jadi, tapi
entahterus terang, kini jiwaku begitu
damai, dari
jejak langkah kerinduan dawai-dawai senja...
DESEMBERtak terasa
langkah kita telah
menjejak masa lalu, saat
desember melaju, tak ada
kalut walau
sejenak dalam
hening, telah aku sadari pada setiap detik yang berlalu, pasti akan selalu ada yang
datang dan menghilang dalam
catatan malam, yang bisa menjadi sebuah
tangisan pagi, atau sebuah elegi
bunga,
maaf bila harus melupakanmu, suatu saat nanti,
aku pasti kembali...
31 Desember 2010
lambaian tangan temani pijak langkah kaki
peluk erat jiwa mendekap segenap asa
tahun yang lalu adalah kenangan
tahun yang baru adalah harapan(Cha'unk El Fakir)