Tampilkan postingan dengan label Hujan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hujan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2012

Pertemuan Ini

hari ini seperti biasanya
ada cerita berkesan ditulis oleh gerimis
menjelajah seisi langit dan bumi
dalam ruang kerinduan yang tersisa

awalnya bertumpu pada harapan
dengan sekeranjang rindu bertumpahan
bermandikan kecemasan
namun di detik saat menatap wajahmu
hatiku meluap bahagia
senyummu mengalirkan resah lewat debar-debar dada
menyusuri denyut-denyut nadi
seketika aku diseret lupa

sayang, siang sudah tampak mendung
kita memanja semoga langit tetap memayung
jalan panjang yang bersama akan kita arung

berlayarlah kita tanpa ragu mengharu
meski angin kencang bertiup menggoda
tak surut hati berselimut rindu
sampai pada ujung pertemuan ini
saat jiwaku dan jiwamu ikut sama-sama membasah

baiklah, kita berpisah di sini
namun kuharap dengan sangat rasa tetap saling menali
sampai akhir nanti

04 Februari 2012

Jumat, 02 Maret 2012

Bilakah Kau Datang

kamar separuh tua ini membaringkan aku bersama malam
bersama hujan menemaniku menuju pintu-pintu impian
malam ini aku tak sedang berharap kedatangan sang bulan
cukup kau tersenyum, walau dalam angan
memberiku kedamaian
terlelap kesendirian
berselimut kerinduan

perempuanku,
bilakah engkau datang?

02 Maret 2012

Selasa, 28 Februari 2012

Semu

hujan pun mulai menceritakan rindu
gemerisiknya menggetarkan seisi ruang kalbu
dan rerintiknya meneteskan ribuan setiaku menantimu
sedang penaku mencoba terus menggambarkan indahmu

tapi aku bingung
katamu,
rindu tak dapat bertemu dalam angan-angan semu

28 Februari 2012

Senin, 20 Februari 2012

Melankolia Slarang Kesugihan

bukan senin yang memberi kita kisah
atau pun sapuan gerimis deras yang menyapa
melainkan setiap kucium aroma bunga di tubuhmu
:cinta yang kian terasa

aku menulis sajak ini karena hari ini aku bahagia
tapi maaf, bunga
aku harus kembali mengubah indahmu menjadi kata
kata yang menguntai lagu senandung batin
dan kembali aku harus menyusunnya sebagai puisi

karena dua hati saling merindu
walau jauh, kau dan aku tetap bertemu
meski awalnya sempat terbata
namun kutahu tatapmu dapat membaca

tapi sekali lagi maafkan aku
mungkin aku memang harus menuliskanmu sebagai puisi
dan menjadikan senin ini satu diantara sekian banyak kenangan
yang kadang sulit kita temukan

ada kecupan yang sangat ingin aku titipkan
lama mengendap dalam mimpi dan harap
dalam jenuh kerinduan
yang akhirnya tumpah dalam sebuah pertemuan
dingin mendadak terhangatkan
dengan ciuman berjuta sayang
tapi ingat, bunga
senin tak pernah memberi kita kisah sebelumnya
:cinta yang begitu kian indah terasa

20 Februari 2012

“Jalan hidup satu diantara kita memang tak harus selalu sama, tak juga harus seiya sekata, selama setiap pertemuan kita selalu berjamuan cinta...”

Kamis, 16 Februari 2012

Hujan Jatuh di Atas Kamarku

sisa hujan yang tinggal seiris, jatuh
impaskan janji lama memeluk bunga
untuk sederet nama yang pernah terpahat dalam jiwa
menghias lekukan malam yang entah milik siapa
karena sepenggal nama tak menyisakan apa-apa
hanya guguran bunga-bunga dan linangan air mata
dalam sebait sajak sunyi
sepanjang kenangan
:rindu untuk melati

16 Februari 2012

Sabtu, 04 Februari 2012

Senja Merintik Kerinduan


hujan kembali mendesah
menyeret selembar resah
di tubuh senja
ia menderas mencurahkan rindu
bersenandung melagukan selirik sajak
saatku rebah memandangi sunyi
mencari-cari sesuatu yang aku sendiri tak tahu

hujan sepertinya telah menitipkan segalanya padaku
untuk menjaga kenangan, perjalanan, dan juga masa depan
sebab aku tahu
tiap kali turun hujan selalu menyapaku dengan senyuman
dengan rintik yang selalu bergumam
membasuh segenap impi dan khayalan

kini,
entah sudah berapa rintik hujan meninabobokan ingatan
rindu ini kian terasa memabukkan

04 Februari 2012

Minggu, 22 Januari 2012

Sejernih Air

seperti janji kita yang saling mengikat dan kian melekat, tiada pernah terkira betapa waktu akan merangkum segenap yang dilalui, dalam dingin kejernihan air yang tak berjarak dari kita, dari harapan yang telah direncanakan jauh hari sebelumnya

kerinduan melimpah ruah, seperti kesumat, tanpa bisa terlihat, kupikir, tiada sepatah bara yang sanggup hentikan denyut-denyut air, segala yang bernama resah perlahan terlupakan, berlalu, lenyap dari pandangan, dari perasaan

senyum kita, kian tergambar jelas di atas permukaan air, menjernih semula, teduh, berpendaran dalam jiwa, dan di bawahnya tiada lagi tampak keresahan, bahkan sampai saat perjalanan pulang, walau sempat dicucurkan hujan

dan setelah hujan terhenti, cahaya cinta kembali membias diri, sebagaimana waktu yang terus menetasi hari, membayangkan rentetan asa untuk hidup bersama nanti, sementara dingin yang kian menebal di ujung-ujung jemari, aku sudah tak ingat lagi

aku bahagia hari ini

22 Januari 2012

Jumat, 13 Januari 2012

Rindu


sajak ini kuawali dengan rindu, tiada aroma lain yang lebih menyenangkan yang dapat kutangkap rasa di dalamnya selain rindu, segalanya dengan cara demikian alamiah, adalah bahwa aku tak mampu menuliskan apapun secara keseluruhan- di bawah gelap langit malam, dengan suasana mendamaikan, bahkan pada hampir setiap kata yang kutuang, berbagi rahasia, untuk sendiri, untuk yang bersedia menemani diri ini, juga untuk sebagian orang yang senang membuat hal-hal atau momen-momen yang tidak akan mudah terlupakan,- kecuali dengan rindu

bahkan kini, saat manakala aku membuka kata pertama, rindu menjadi sebuah ide besar bagiku, untuk menggambar segala sesuatu yang tak pernah mampu terungkap dari kedalaman, untuk membuat hal-hal sulit menjadi begitu dengan mudah terlewatkan, tanpa suara sedikit pun, hanya pena yang bergerak kesana kemari tanpa diam barang sejenak, si kecil yang keriangan, dengan tangan yang begitu mengistimewakan rasa yang bernama rindu

barangkali di hidupku, ada masih begitu banyak rindu yang belum lagi terbit, tapi aku tak perlu mencari-cari kapan dan di mana rindu baru itu akan menyentuh permukaan hati, segenap hari-hari, kujalani, kulalui, kulewati, melangkah keluar, hanya menatap muka, mengikuti kemestian, percaya atau tidak, rindu seolah telah menjadi nilai yang paling suci, mempengaruhi naluri, yang pada akhirnya membawa pikiran ke dalam keheningan istirahat, menenangkan, tiada lagi tuntutan yang membuatku melakukan apa yang semestinya kulakukan, segalanya seperti diarahkan oleh rindu

jadi aku tidak pernah merasa akan kehilangan sesuatu, atau seseorang, manakala naluri begitu tenang menyambut rindu-rindu yang datang, betapa kurasakan kedalamannya mampu melahirkan sajak malamku ini, dengan keriangan bergandengan tangan, dan dengan demikian semuanya bisa kututup dengan sempurna dan mengesankan, ya, sajak ini sudah semestinya berakhir dengan rindu, dan akan menjadi satu-satunya sajak yang kuawali dan kuakhiri dengan sebuah rindu

13 Januari 2012

"...tugasku tahun ini adalah mempersiapkan sebuah momen terbesar dalam sejarah hidup, rindu telah memapahku melakukan langkah pertama beberapa hari lalu, dan meyakinkanku untuk bisa mewujudkannya..."

Minggu, 08 Januari 2012

Sepanjang Hari


deras hujan di sepanjang hari
seakan membasuh luka bumi
sepi yang sekian lama menyelimuti
kini diputikkan melati

08 Januari 2012

Jumat, 09 Desember 2011

Bermula Kembali

ribuan gerimis senja
menetes tanpa ragu
meruntun mencipta lagu
lagu yang telah lama menghitung kisah
kisah dari semua perjalanan kita
kita, turut mengalir bersama tetesan-tetesan gerimis senja

ada harap yang tersembunyi
diam setenang kejujuran yang dalam
lama kita berteduh
sebelum kita tautkan kembali tautan yang dulu hilang

dan dari gerimis senja yang jatuh beribu
di sini kita bermula kembali

09 Desember 2011

Selasa, 29 November 2011

Catatan Lelaki Hujan


“Suatu hari, aku akan mengunjungimu di kotamu...”

gerimis akhir november tiba-tiba membesar disertai deru angin yang menjadi liar serupa kelebat bayangmu dalam kepalaku, kurapatkan jaketku sekedar mengurangi rasa dingin yang merasuki kulitku, tapi seolah ada yang lebih dingin lagi merayap dalam dadaku...

larik-larik air yang jatuh di jendela kamarku membentuk semacam tirai di hadapanku, dan seorang gadis manis berlari menembusnya, gadis itu merapat ke sisi kiriku dengan tubuh menggigil, entahlah, segalanya seolah bersatu padu melekatkan bayangmu pada benakku, segalanya: malam yang miris, hujan menderas, bahkan aroma parfum yang melekat di tubuhmu...

kerinduan memang selalu datang begitu saja, seperti hari ini, aku baru bangun dari tidur nyenyak ketika menemukan rintik-rintik gerimis di luar jendela, dan seperti yang sering terjadi, tentunya aku segera teringat padamu, aku merasa begitu kangen padamu, entahlah, tiba-tiba seperti merasa ingin sekali mendengarkan lagu-lagu kesukaanmu dulu...

aku percaya kau masih begitu menyukai hujan, kau pernah membisikkanku kalau kau lebih suka menyebutku sebagai lelaki hujan, aku hanya tersenyum waktu itu, walau tidak tahu apa alasanmu, aku merasa kau seolah-olah berada di sisiku, dan kita berdua sedang menatap hujan yang berkejaran di luar sana...

ah, hujan tiba-tiba menjadi getir di mataku, suara curahannya terdengar seperti sebuah senandung kepiluan, aku pernah mengatakan kepadamu, jika setiap kali hujan turun di kotaku, aku akan selalu teringat padamu, dan membayangkan kau ada di sampingku, karenanya, aku selalu berlama-lama memandangi hujan yang tercurah dari langit, terkadang aku ingin mengirimimu pesan: “apakah hujan sedang turun juga di kotamu?”...

dan seringkali aku sangat ingin kau membalas pesanku, agar aku tahu kau juga sedang menikmati hujan sepertiku, sekedar untuk membuat hatiku ceria, bukankah hujan adalah waktu yang teramat indah untuk bercumbu?...

di hidupku, kau pun seperti hujan yang datang membasahi, yang membuat pepohonan dan rerumputan meruap segar di hatiku, barangkali saat itulah aku mulai menyukai hujan, dan betah menikmatinya berlama-lama, sebab di saat seperti itu aku merasa benar-benar menemukan dirimu...

gerimis akhir november turun lagi membasahi ingatan-ingatanku padamu, ingin sekali aku mengirimkan sebuah pesan untukmu sebagaimana biasanya, sekedar mengabarkan bahwa hujan sedang turun di kotaku, dan aku sangat merindukanmu, kau tahu aku begitu takut membayangkan akan ada seseorang yang mendampingimu di sisa hidupmu nanti, sedang aku mungkin akan tinggal bayang-bayang yang jauh, apakah nanti kita akan tetap saling berkirim pesan dan sesekali bertelepon? aku tak tahu, apakah kelak kau masih akan menyukai hujan seperti saat bersamaku kini?...

aku tak ingin musim hujan berlalu, diriku terlalu takut kehilangan bayangmu, kalau saja kau tahu betapa cemasnya diriku, kadang aku berharap hujan akan melupakan musimnya dan turun sepanjang waktu, seperti rinduku padamu, agar jejak kerinduan kita tak meranggas oleh kemarau yang mendatang...

apakah musim hujan akan segera pergi dengan membawa serta pergi bayangmu dari benakku, membawa pergi segenap debar dada yang kurasa begitu nikmat setiap kali pesan-pesanmu datang, sehingga barangkali aku akan lupa bahwa aku pernah begitu menyukai hujan...

tapi seharusnya aku memang tak menyukai hujan, sebab mungkin aku takkan semestinya mengingatmu lagi...

Cha’unk El Fakir


29 November 2011

Senin, 28 November 2011

Hujan Lagi


malam lagi
hujan
rindu lagi
hmm…
dingin
sepi

membayangkanmu lagi
apa saja
membayangkanmu
terserah aku
matamu
pipimu
senyummu
tidak masalah
membayangkanmu
apa saja boleh
terserah aku

hujan lagi
rindu lagi
tapi ada bayangmu
jadi tidak masalah

28 November 2011

Kamis, 24 November 2011

Hujan Rinduku

tak pagi
pun tak senja
tak jua malam
bagiku
engkau hujan rinduku

24 November 2011

Selasa, 22 November 2011

Saat Mimpi Itu Pecah

saat mimpi itu pecah
kita sedang berdua
manis senyummu seindah lagu
aku termangu menyanggah dagu
ada setumpuk asa yang kian membasah
dalam hujan yang bertubi-tubi menyapa bumi
sedang di luar
angin terus berhembus mengantar tulus

dari hati ke hati
kita nyanyikan syair nurani
bertaruh menempuh waktu hari demi hari
menyatu, berselimut rindu
kataku, ada yang dijanjikan dalam kenangan
dalam jiwa yang semakin malam

kuharap kau lebih mengerti, bunga
saat mimpi itu pecah
di hati akan selalu ada cinta

22 November 2011

Senin, 21 November 2011

Pada Rintik Nyanyian Hujan

pada rintik-rintik nyanyian hujan
bersama kita bermain lagu
getar-getar dalam kalbu
begitu sendu

pada rintik-rintik nyanyian hujan
bersama kita mengalunkan rasa
lewat getar pesona nada
dalam sekumpulan kata

pada rintik-rintik nyanyian hujan
bersama kita mengayuh sampan
berharap rindu-rindu berdentingan
selalu sampai ke tepian

21 November 2011

Sabtu, 19 November 2011

Mimpikah Aku

hatiku luluh jua
saat hujan kembali temani langkah-langkah kita
senyummu kian ayu mengurai pilu satu per satu
tanpa suara

mimpikah aku?...

19 November 2011

Selasa, 15 November 2011

Bila Hujan Mengguyur Sepi



bila hujan mengguyur sepi
menderas dalam sukma kenangan lama
sajak-sajak tiada lagi berbunyi
terlena dalam kilauan senyum gerimis merona

aku terdiam
jiwa menghening tenang
saat hujan sore ini kembali membasah bumi

jangan sangkakan aku menghilang, sayang
hujan ini sudah terlalu sering menghanyut kenangan
resah mendesah di tebing-tebing kerinduan
memecah sepi di pantai haluan

adakah terasa rinduku di hatimu?

15 November 2011

Rabu, 09 November 2011

Perempuan Senja

kau antarkan aku sepotong cinta
menghiasi sisa-sisa gerimis senja
cinta tanpa air mata

tapi mungkin kau lupa
senyum dan canda tawamu
masih tertinggal di rerintikan salju

meleleh
hening mencair di reranting kalbu

09 November 2011

Jumat, 04 November 2011

Catatan Hujan


selama kebersamaan kita
kurasakan hatimu senantiasa memancarkan cahaya
cahaya yang menyala, menyilaukan pandangan mata
seperti menawar lebih dari sejuta kerinduan
setiap hari
bahka saat setiap senja telah berlalu
dan saat itu belum jua kutemu cahayamu
aku menanti
tetap menanti
untuk kurangkul dan kuciumi

namun kini tiba-tiba kau diam
saat kita yakinkan jalan kita masih seiringan
nyala cahayamu meredup
jauh
hilang ke ranah entah

kebersamaan ini memang sebatas teman
namun cahayamu, kadung mempesonakan hati
kita saling sayang, saling mengasihi
merangkai hari dengan bunga-bunga
semestinya saat kau diam
aku masih bisa tersenyum
menikmati binar-binar cahayamu
walau dari kejauhan
tapi nyatanya itu tidak pernah terjadi
kau kian membisu
kau kian menjauh

cahayamu hilang
menjelma hujan
hujan yang kurasa kian memilukan

04 November 2011

Rabu, 02 November 2011

Saat Turun Hujan


hujan turun menderai saat hati terberai
jatuh dengan bahasa yang paling merdu
di sini masih ada sisa cahaya senja
menyeringai menembus rapuhnya jiwa

ketika hujan turun air mataku terberai jua
menyekap kepiluan di jelang malam
menjerat rindu
menelanjangi kata-kata bisu
jatuhnya lembut
tapi terasa begitu mengiris kalbu

sebab tak kuasa kuhentikan hujan
kubiarkan ia bersenandung riang
diantara temaram lampu-lampu kamar
diantara bayang-bayang wajah perempuan
walau terdengar bagai letusan meriam
kuharap ia tetap membukakan jalan
bagi rinduku akan kehangatan

di sini setelah hujan
menyisakan rerintik gerimis yang lembut-lembut berjatuhan
namun memilukan

02 November 2011