Rabu, 30 Juni 2010

Semoga...

simpul mati itu telah terurai
tali temalinya terputus
membukakan pintu yang lama tertutup
menampak pagi indah menyingsing
memancar harapan berlimpahan
dan hujan pasti kan turun kembali
nanti

yang berlalu kubiarkan lenyap
dan yang lenyap kubiarkan mati
ini jalan yang kupilih
aku tak lagi peduli dengan apa yang berlalu
karena ia telah pergi
dan berakhir

kini kuharap
yang telah hilang akan tergantikan
dan akan segera datang
dengan terang yang lebih benderang

semoga.....

30 Juni 2010

Selasa, 29 Juni 2010

Malam

tidak salah
hanya malamlah puncak rindu segala rindu
tempat resahku mesti diadu
membuang segenap keluh
menguak cela seluruh
pada jiwa yang rapuh
sambil berharap angkuhnya meruntuh

malamku telah menampung banyak rindu
damai selimutnya jadi santapan kalbu
menuang asa pada gelas-gelas waktu
melenyap hampa yang telah lalu

dalam sebentar resahku melebur
sedang diri enggan jua mengabur
ke tepi debur

setiap malam adalah puncak segala rindu
aku tak ingin kan lagi terjatuh
sama tiada artinya dengan setiap yang luruh
namun tak penuh

29 Juni 2010

Minggu, 27 Juni 2010

Aku Menginginkan Seorang Gadis


aku menginginkan seorang gadis di sini
yang datang dengan kemauan sendiri
bukan karenaku
barangkali tak ada yang mengerti kenapa
termasuk keinginanku

tapi telah kukatakan berkali-kali
ini adalah duniaku
pikiranku telah meyakinkan diriku sepenuhnya
bahwa ini bukanlah sesuatu yang hampa
telah ada seorang gadis hidup di dalamnya
dan ia nyata
yang tak pernah kubayangkan sebelumnya
karena ia tak kasat mata
pun tanpa suara

aku menginginkan seorang gadis yang indah
biar pikiranku tak lagi membaca kesunyian yang lebih dalam
akan kuungkap sesekali apa yang sedang aku rasa
karena mungkin semuanya tak cukup dengan isyarat

aku menginginkan seorang gadis yang ramah
biar tak ada satu ruang hampa pun yang tak berubah
maka bacalah...
saat nanti kukatakan apa yang seharusnya dibacakan
karena kita, telah ada di luar perbatasan

27 Juni 2010

Sabtu, 26 Juni 2010

Dengarlah Laguku

malam...
kau tahu hampaku telah berlalu
sunyi yang dulu selalu menemani
kini tak lagi menjejaki waktu
selimut gelapmu tak lagi membawa sepi
membuatku bahagia
ada pena sebagai pendamping kopiku
ada tinta sebagai kolam renang imajiku
ada buku sebagai teman nyanyianku
dan rindu adalah kekuatan yang tersimpan dalam diriku

malam...
dengarkanlah selalu nyanyianku
lagu ini indah
lagu ini anugerah
karena kepedihan terkubur sudah
menjadi sesuatu yang telah berlalu

26 Juni 2010

"Terkadang kita memerlukan perhentian untuk merenungi hal-hal sulit yang kita hadapi, karena itu, berhentilah sejenak untuk kembali melangkahkan kaki yang lebih pasti."

Jumat, 25 Juni 2010

Gelisah

mungkin
dulu aku masih sangat mentah
meski banyak menelurkan kisah
melahirkan sajak-sajak basah
tapi tak pernah mampu menanggalkan resah
kini pun tak sangat beda
saat usia mendekati baya
pengalaman belum jua padati jiwa
hanya nikmati angan memandangi asa

diri sebagai pemandu kereta
teramat perlahan masuki lorong-lorong pencerahan
yang sesungguhnya aku tak pernah tahu
sebuah kebenaran ataukah persimpangan
aku masih mentah
aku masih buta arah

bahkan,
saat diri tersentuh setitik cahaya
aku masih jua tak penuh percaya
dengan raga separuh siaga
adakah ia menghancur hampa
tetap menaruh harap cerah
dan kian nyata?

aku telah begitu segan
terhanyut sunyi kali kedua
betapa angan yang dulu pernah selalu ada
ternyata hanya sekadar memendam rasa

mungkin
aku mesti berhenti menulis
karena ada jalan lain yang lebih indah untuk dilalui
tapi sanggupkah...
sanggupkah diri memberi banyak arti
untuk jiwa dan kehidupanku nanti?

Tuhan,
beri aku sedikit pikir
untuk mampu renungi resahku ini

25 Juni 2010

Rabu, 23 Juni 2010

Sajak Sebongkah Rindu

di kamar yang heningnya tiada lagi berselimut sepi
sayup-sayup rindu melambai
menangkup sekujur raga
membawa getar menyimpan desah
menebar indah
hanyutkan resah

di malam yang anginnya tiada lagi meniup sunyi
diam-diam rindu menyapa ulu hati
dengan debar yang sama besar
seperti saat bayangmu mengejar
mengirim pijar cinta terhampar
menuju altar
membuatku terkapar

di sini hanya ada sebongkah rindu
ia bergetar
mengibar debar
meski hangatnya menyelip samar

23 Juni 2010

Hembusan Rindu di Keheningan

dari keheningan kuhembuskan rindu
lewat angin-angin malam memelukmu
tak terbendung

hening ini menghembuskan rindu
tanpa batas
menenun hasrat tak sekilas
membaring di dirimu
menabur bunga seharum cinta
memadukan denyut-denyut jiwa
memaut rasa

dari hening ini terhembus rindu
yang lama mendekap malam-malamku
kuharap,
ia dapat sampai ke pangkuanmu
lantas mengaliri aliran darahmu
menuju hatimu

23 Juni 2010

Senin, 21 Juni 2010

Mengeja Rindu di Jelang Fajar

ziarah
pada angin hening yang rebah
tak lelah-lelah

larut
bersama angin malam menyelimut
tak surut-surut

debar rindu ini milikmu
juga kesetiaan getar lembut hatiku
sebab senyummu kini telah hilang
barangkali sembunyi di rerimbunan kenangan
sebab ternyata kita kini tanpa pertemuan
barangkali tersela kejamnya tebing kenyataan

rindu ini tak kenal lelah
meski menumpah darah
ia tetap rekah

rindu ini tak kenal surut
meski sempat hentikan denyut
ia tetap bergelayut

sungguh,
tanpa lelah
tanpa surut
rindu ini berkelebatan, selalu
seperti sembilu mengibasi sepi dinihariku
tanpamu.....

21 Juni 2010

Minggu, 20 Juni 2010

Rindu Tanpa Nama

sudah sejak mula aku percaya
cinta bukan sekadar linangan air mata
dari gugurnya daun merah jambu di jendela
sebab ia hanya terpenggal
yang lantas tanpa disadari menjadi sebuah awal

jika cinta hanya dianggap air mata
maka rindu yang menyelubung jiwa
nadanya berirama sia-sia
indah dendamnya tak lagi bisa dirasa

aku sudah percaya sejak mula
cinta menampung banyak rindu tanpa cela
lantas mengalir di setiap detik usia
meski tak lagi ada nama
ia tetap menghimpun indah tanpa kata
tanpa air mata

20 Juni 2010

"Kita mungkin merasakan jarak memisahkan raga kita satu sama lain, tapi mungkin juga kita merasakannya secara lain bahwa justru jarak itulah yang mempertautkan jiwa kita menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan."
(Cha'unk el-Fakir)


Jumat, 18 Juni 2010

Episode Tragedi dan Secangkir Kopi


-kisah usang yang lengang di sudut ruang

di sepi yang hampir sempurna ini, saat segala sesuatu telah pergi, tak kecuali nama yang pernah begitu indah menghiasi, dimiliki, disanjungi, dan dikagumi oleh hati -namanya dulu cinta, bersemi, meski penuh dengan teka-teki- seberkas sinar mentari telah lagi terangi hidupku, aku hanya sedikit menoleh masa lalu, lantas menatapi apa yang ada di hadapanku, sungguh, belum pernah sebelumnya kulihat hal-hal yang begitu banyak lagi indah secara bersamaan, rasanya, tak pernah sia-sia aku kuburkan saat-saat indah empat puluh bulanku beberapa waktu yang lalu, saat itu aku merasa telah diwajibkan untuk menguburkannya, apa yang dulu pernah hidup menyemat dalam hidupku, aku menguburkannya, lambat-lambat, dan tanpa ada yang tahu...

dulu, cinta begitu setia menemani aku, dari waktu ke waktu, pada siang dan malam-malamku, ia adalah kata-kataku yang paling tenang yang selalu membawakanku begitu banyak puisi, imaji-imaji yang datang senantiasa membimbingku, mengajariku bagaimana cara yang indah menghirup udara malam, dan memandang langit cerah pada siang hari, kedalamannya adalah kebahagiaan yang tumpah tetes demi tetes, kusangka tak ada habisnya, namun pada akhirnya berujung kesia-siaan, cinta merenggut rangkaian mimpi-mimpiku, dengan kepelan-pelanan yang begitu lembut, yang belum pernah aku sadari sebelumnya...

aku tersudut di ruang hampa sepi sapa, ruang di mana aku hanya bisa menemukan, dan selalu mengeja kata-kata tragis di dalamnya, tak kutemui hal selainnya, bahkan untuk hal-hal yang paling aneh sekali pun...

dari sini aku akui kerapuhanku, aku ketakutan melanjutkan hidup, tanpa sedikit pun daya kupunya, tak akan kusangsikan bahwa pada saat itu aku benar-benar membutuhkan sesuatu yang luar biasa, setidaknya untuk membuatku tetap bertahan, melepaskanku dari rasa kasihan dan ketakutan, tapi lagi-lagi tak pernah kutemukan...

dalam hari-hari yang dipenuhi tragedi keterpurukkan, termasuk kepesimisan, aku sadari, aku harus mampu melahirkan kekuatanku sendiri untuk menyadari segala hal yang ada dalam diri, memahami dekadensi naluri yang tengah terjadi, secara sejati...

dengan sakit yang paling parah sepanjang usia, dan dengan kelemahan yang begitu pasrah, aku mengeja perlahan-lahan, tentang episode-episode yang hampir mati, sebelum segalanya memanjang, kuyakini bahwa penyembuhan dengan jalanku sendiri akan menangkap banyak pengalaman sebagai pelajaran tak terhargai, aku bukakan kembali mata hati yang hampir mendekati kebutaan, buta akan segalanya, aku eja dari belakang, tak kecuali apa yang akan kutemukan dan kulakukan ke depan...

sementara di titik lain, aku tak pernah menyandingkan santapan-santapan di antara batang-batang rokok dan secangkir kopi kentalku, seperti halnya yang dilakukan banyak orang untuk kelanjutan hidup, aku tak ingin merusak kekhasan rasa pada setiap tegukannya, juga nuansa suasananya, ia teman setia, pada siapa saja aku akan berkata, menghabiskan hari tanpanya setara dengan membunuh sebuah karya jiwa, tak masuk akal? biarlah...

ia seperti selalu menjadi kebiasaan untuk pagiku, padahal ia telah menjadi primer untuk kebutuhan harianku, akan lebih indah kehilangan seorang kekasih bagiku dari melewati hari tanpa secangkir kopi, ia selalu menemaniku duduk dari jarak yang paling dekat, ia bangkitkan aku dari keyakinan yang terbekukan, ia tebarkan aroma harapan yang luar biasa, membantuku mencari-cari celah titik terang, yang menjadi satu bagian kehidupan paling romantis dalam hidupku...

di tengah dera menyamudera, tergerak hati melangkahkan kaki ke luar kota, sebuah ide yang ramah menurutku, tapi masih tetap dengan kerapuhanku, begitu berat untuk meninggalkan anak-anakku yang riang, namun sulit untuk tak membiarkan terang itu hilang, terbayang sebuah kehidupan yang begitu mengerikan, aku harus menikmati nafas hidup ketidakbersihan, dalam terang yang tak begitu benderang, dalam cahaya yang tak begitu sempurna, bagai telah ditakdirkan untuk hanya berkunjung sejenak menikmati angin metropolis, aku kembali pulang halaman, barangkali di tempat sinilah takdirku dilahirkan, dibesarkan dan menghabiskan masa kecil untuk kemudian membesarkan anak-anakku kelak, insya Alloh...

di sepi yang telah sempurna ini, aku ketukkan sebuah palu ke atas meja tiga kali tanpa terputus, menandakan bahwa aku akan kembali berdiri dan berjalan, dengan segenap kehormatanku sebagai laki-laki, dan untuk yang akan menjadi pendamping hidupku nanti, beri aku waktu untuk memperbaiki kehidupanku lebih dulu, setelahnya, kau kubolehkan hidup bersamaku selama-lamanya, dengan kehidupanku yang serba alakadarnya, tapi tetap penuh cinta...

sebuah rekreasi kehidupan yang teramat menawan, pohon cinta itu memang pernah tumbang dalam hidupku, menggugurkan daun-daunnya, rapuhkan nurani dan jiwa, tapi aku tak pernah menyangka dan tak pernah tahu sebelumnya, bahwa aku telah dengan susah payah menjaga agar pohon yang pernah menumbangkan hidupku itu tak lantas menjatuhkanku sampai mati, aku masih tetap hidup, dan masih menikmati keunikan nuansa kopi kental seleraku, hingga kini...

kini sepi telah begitu sempurna, aku tak harap akan berteman lagi dengannya, aku telah banyak memiliki hal-hal yang indah, demikianlah aku kisahkan akhir dari periode-periode mati kehidupanku, untuk hidupku sendiri...

-Cha'unk El Fakir

"Di antara hal terakhir yang dikenali manusia secara keseluruhan adalah dirinya sendiri."(Mark Hopkins)

18 Juni 2010

Kamis, 17 Juni 2010

Terlalu

aku terasa mati ditinggal kekasih
tak pernah terpikir ini bisa terjadi
aku terasa pilu saat kau berlalu
hilang semua kisah cinta dalam hatiku

cintaku padamu telah setinggi langit
namun kau tak merasakan
sayangku padamu kan kuingat selalu
biar kubawa sendiri

aku tak bisa menahan langkah kakimu
aku tak bisa menahan kepergianmu
kamu terlalu telah dengan yang lain
untuk hidupmu nanti

aku tak bisa menahan air mataku
aku tak bisa menahan kesedihanku
aku telah hancur hilang semua mimpiku
aku telah hancur hilang semua mimpiku

-Charly "ST12"

17 Juni 2010

Puisi Sepi yang Hampir Mati di Awal Hari

setiap kali bangun pagi masih selalu ada senyum
menghirup semerbak melati dekat di hati, terkagum-kagum
sebenarnya memang selalu ada kehangatan
dengan tembang segelas kopi mengakrabi
tak pernah kubiar pagi berlalu tanpa aromanya
sekadar ingin menyentuh kehangatannya
berharap dapat mengelus pikir dan jiwa
memberi secuil rasa riang
melepas mimpi-mimpi malang
menghapus angan-angan terbang
mengubur kenangan-kenangan usang
bangkitkan raga setegar karang
bersama bunga yang tumbuh pada retina mata, terbayang-bayang

betapa indah

padahal,
pagi ini bukanlah pagi kemarin yang diulang-ulang
ia hanya tak berubah dari kebiasaan.....

17 Juni 2010

Rabu, 16 Juni 2010

Kepastian

katakan jam berapa
pada hari apa
dan di tempat mana
tentukan pilihanmu sekarang

aku pastikan datang

16 Juni 2010

Selasa, 15 Juni 2010

Eksotika Hidupku

dari waktu ke waktu
ada yang terus mencoba menjauh dari lilitan rindu
tapi waktu membiarkan segalanya berlalu
perih memang harus mendekam di ruang kelam
tak tahu apa yang mesti kuhirup dalam desah
tak tahu mana yang mesti kutuju untuk sebuah arah

tiada banyak yang bisa dilakukan dari kesunyian
padahal semestinya ada gerak
aku harus selalu mencari celah
dari sekian rentetan pikir yang menyesak benak
tapi aku gagal
lantas hanya bisa bertawakal

hidupku, kini seperti hanya menyisa separuh
hanya merasakan koma demi koma satu per satu
sementara segalanya dibiarkan berlalu oleh waktu
tapi aku tak pernah meninggalkan sunyi
hanya mengingat bahwa aku tak punyai apa-apa lagi
beginilah hari-hari yang kujalani
tiada sehangat kopi pada cangkir terakhirku tadi pagi
namun tetap romantis

aku masih bahagia
mereka masih sangat setia, tak ada tara:
kopi hangat beraroma cinta
sebatang pena bertinta rindu
dan serepih hati yang masih nyalai jiwa

kesetiaannya menerima kenyataan
senantiasa menyimpan kerinduan
lelah jiwa tetap menegak penuh harapan

tak kubiar ada yang menyentuh damai hidupku
tak kubiar ada yang merusak indah hari-hariku
kuyakin masih kan ada cahaya kutemu
di antara puing-puing repihan jiwa yang biru

sebait harapan baru
berenang riang di puncak rindu
membenam karam di pelupuk kalbu
aku sambut
aku sambut
haru

(Alhamdulillah.....)

15 Juni 2010

Minggu, 13 Juni 2010

Sofie, di Satu Sua

aku bahagia jika kau tetap seperti dulu
sebab kurasa ini lebih baik, adindaku
kupikir, aku cukup beruntung bisa menemuimu
bisa berada di sampingmu
sebab yang kuharap memang begitu

kau lihat wajahku memendam pilu
cahayanya menyirat suasana hati
tapi tetap mampu menebar senyum
senyum yang masih belajar memberi arti
tak sepertimu yang pandai mengeja rasa
berbagi dalam damainya kebersamaan

bersama angin senja engkau tautkan jiwa
pada sua kali pertama
kemudian menumpah indah
menghias wajahku, mungkin wajahmu, wajah kita

sungguh,
aku telah melihat pelangi di matamu
yang warnanya begitu jelas terbaca
tergambar seperti pantulan kebaikanmu
saat mataku matamu bersalin sapa
seperti mendekap rindu yang menderu-deru
dalam panjangnya belantara waktu

tahukah engkau, dinda
aku takkan pernah menyesal telah menemuimu
aku hanya akan melebarkan kenangan
sampai semua bergenangan
tiada sisa berhamburan
bahkan, sampai kau merelakan langkahku melenggang sendirian
sebab sesekali kadang mesti kita biarkan
perpisahan menjadi seteru pertemuan

terlalu singkat waktu yang kita sediakan
tapi apa yang telah kita hadirkan
tak lebih mudah untuk dilepaskan

dinda...
saat tangan telah saling merangkai
dan hati telah saling menguntai
saat itu, perjalanan kita baru akan dimulai

semoga menyibak segala sebak
dan kita sambut sisa-sisa deburan ombak
bukan untuk waktu yang sejenak

kita harap kan ada sua kembali
suatu saat nanti
sua yang lebih mengabadi

semoga saja....

13 Juni 2010