Rabu, 16 Juni 2010

Kepastian

katakan jam berapa
pada hari apa
dan di tempat mana
tentukan pilihanmu sekarang

aku pastikan datang

16 Juni 2010

Selasa, 15 Juni 2010

Eksotika Hidupku

dari waktu ke waktu
ada yang terus mencoba menjauh dari lilitan rindu
tapi waktu membiarkan segalanya berlalu
perih memang harus mendekam di ruang kelam
tak tahu apa yang mesti kuhirup dalam desah
tak tahu mana yang mesti kutuju untuk sebuah arah

tiada banyak yang bisa dilakukan dari kesunyian
padahal semestinya ada gerak
aku harus selalu mencari celah
dari sekian rentetan pikir yang menyesak benak
tapi aku gagal
lantas hanya bisa bertawakal

hidupku, kini seperti hanya menyisa separuh
hanya merasakan koma demi koma satu per satu
sementara segalanya dibiarkan berlalu oleh waktu
tapi aku tak pernah meninggalkan sunyi
hanya mengingat bahwa aku tak punyai apa-apa lagi
beginilah hari-hari yang kujalani
tiada sehangat kopi pada cangkir terakhirku tadi pagi
namun tetap romantis

aku masih bahagia
mereka masih sangat setia, tak ada tara:
kopi hangat beraroma cinta
sebatang pena bertinta rindu
dan serepih hati yang masih nyalai jiwa

kesetiaannya menerima kenyataan
senantiasa menyimpan kerinduan
lelah jiwa tetap menegak penuh harapan

tak kubiar ada yang menyentuh damai hidupku
tak kubiar ada yang merusak indah hari-hariku
kuyakin masih kan ada cahaya kutemu
di antara puing-puing repihan jiwa yang biru

sebait harapan baru
berenang riang di puncak rindu
membenam karam di pelupuk kalbu
aku sambut
aku sambut
haru

(Alhamdulillah.....)

15 Juni 2010

Minggu, 13 Juni 2010

Sofie, di Satu Sua

aku bahagia jika kau tetap seperti dulu
sebab kurasa ini lebih baik, adindaku
kupikir, aku cukup beruntung bisa menemuimu
bisa berada di sampingmu
sebab yang kuharap memang begitu

kau lihat wajahku memendam pilu
cahayanya menyirat suasana hati
tapi tetap mampu menebar senyum
senyum yang masih belajar memberi arti
tak sepertimu yang pandai mengeja rasa
berbagi dalam damainya kebersamaan

bersama angin senja engkau tautkan jiwa
pada sua kali pertama
kemudian menumpah indah
menghias wajahku, mungkin wajahmu, wajah kita

sungguh,
aku telah melihat pelangi di matamu
yang warnanya begitu jelas terbaca
tergambar seperti pantulan kebaikanmu
saat mataku matamu bersalin sapa
seperti mendekap rindu yang menderu-deru
dalam panjangnya belantara waktu

tahukah engkau, dinda
aku takkan pernah menyesal telah menemuimu
aku hanya akan melebarkan kenangan
sampai semua bergenangan
tiada sisa berhamburan
bahkan, sampai kau merelakan langkahku melenggang sendirian
sebab sesekali kadang mesti kita biarkan
perpisahan menjadi seteru pertemuan

terlalu singkat waktu yang kita sediakan
tapi apa yang telah kita hadirkan
tak lebih mudah untuk dilepaskan

dinda...
saat tangan telah saling merangkai
dan hati telah saling menguntai
saat itu, perjalanan kita baru akan dimulai

semoga menyibak segala sebak
dan kita sambut sisa-sisa deburan ombak
bukan untuk waktu yang sejenak

kita harap kan ada sua kembali
suatu saat nanti
sua yang lebih mengabadi

semoga saja....

13 Juni 2010

Sabtu, 12 Juni 2010

Semuanya Telah Aku Lakukan

semuanya telah kulakukan
aku telah melakukan semuanya
hanya untuk bisa menyentuh kehidupanmu
semuanya telah kulakukan
dengan harap hatimu akan tergerak

aku tahu bahwa kau tak pernah mencintaiku
aku tahu bahwa kau mencintai seseorang yang lain
tapi saat kau akan pergi ke mana entah
aku akan mencintaimu, selalu
seperti yang pernah aku lakukan dulu
pada akhir temu
sampai kau dan aku mengabu
dan ketika semua hari-hari kita usai
aku akan mencintaimu seperti yang kini aku lakukan
karena hatimu adalah satu-satunya kembaliku

12 Juni 2010

Kamis, 10 Juni 2010

Senyummu Bunga

senyummu singgah di secangkir kopiku
saat gemericik hujan mulai turun di beranda

senyummu bunga
menyingkap hijab pintu langit tak berbintang
saat kata terakhir menembus hening malam
sebelum mengelam

senyummu bunga
menguak tabir taman kesuraman
saat malam bangkitkan raga dari tidur panjang
setelah diam dalam ketakberdayaan

hujan yang turun bersama air mata
bersama pedih bersama rindu
rintiknya merangkai kata demi kata
kemudian menetas tak begitu lama
di lengkung langit tak berkejora
saat rindu terus menggericik di beranda

lantas aku tersadar
senyummu bunga
bukanlah bayang-bayang maya

10 Juni 2010

Rabu, 09 Juni 2010

Nadia, Antara Tangerang dan Karawang

ada perempuan dalam gelapnya cakrawala malam
berwajah suram
terbias penerang tiang-tiang jalan
tapi tak tampak ada kesedihan
apa karena keterbatasan penglihatan
sebab ternyata ia masih bisa tersenyum riang?

ada perempuan dalam sekali pandang
menyandar di tempat duduk sebelah kanan
dalam remang perjalanan malam
pandanganku tetap memajang
menghias mataku dengan lelehan bayang-bayang
dengan kata yang tak pernah lengang

kuulurkan separuh tangan
berharap akan ada perkenalan
jiwaku terlanjur terpesona
sepasang mataku tak jua mampu memejam
meski berbaur kelamnya malam

di kota besar seperti ini
teramat jarang yang bisa aku temukan
tentang perempuan belia melebarkan kerudungnya
inilah sebenar-benarnya mahkota
begitu indah menghias wajah secantik nadia

dewi nadia bila amara kumara sanie
ia mengenalkan namanya tanpa sisa
tak sempat kucatat, namun kuingat
tak sulit melihat merah rona wajahnya yang menggoda
lalu kubalas menyebut namaku seadanya

sementara dalam sapa
telingaku tak pernah mendengar kata-katanya
hanya kurasa, kesejukan suaranya sesemilir angin menyentuh jendela-jendela jiwa
tak dapat kuraba apa pun di dalamnya
sungguh, kebekuan yang begitu lekas tercairkan

tapi sayang,
aku harus meninggalkannya lebih segera
tapi kubawa bias-bias wajahnya, tak sengaja
wajah yang memang tak mudah dilupa
atau ia yang telah sengaja menitipkan nama untuk kujaga
antara semburat cahaya dan gelapnya cakrawala
atau antara tangerang dan karawang setidaknya

entahlah...
yang pasti hatiku berbunga

09 Juni 2010

Selasa, 08 Juni 2010

Jasmine...

-in memoirs

dulu...
semesta kurasa begitu indah
tak cuma di pandang mata
jiwa pun merasa

kini...
mungkin sesalku agak terlambat
paras bungamu terlanjur sekarat
dirubung luka menyayat-nyayat

aku tak pernah tahu
siapa diantara kita yang terpedaya
sulit untuk dapat dipahami
sulit untuk bisa dimengerti

pernah kurias kelopakmu di awal pagi
dengan sejuknya bait-bait puisi
meski tiada abadi
ia selalu bernyanyi di atas indahnya lengkung pelangi
mengumpulkan serpih-serpih mimpi
yang kita titipkan kepada matahari
dulu aku ingin terus membawamu pergi
tapi ternyata aku yang menghilang terlalu dini
membiarkan melati terpuruk seorang diri

cerita indah itu kini tiada lagi
kupikir, segalanya memang telah berakhir
menjejak bayang impian
menyobek angan dan harapan
mimpi lama terkubur lalu
aku yang tak punya setia
menyerapahimu sia-sia
dan aku percaya saat itu kau tiada berdaya

barangkali,
selepas tenggelam dimamah pilu
menepi sendiri ke tempat ngeri lagi sepi
memikul berat beban luka menghimpit sisi nurani
kau tetap berlari, tanpa ada henti
sambil berharap nanti
embun pagi kembali basahkan kering jiwamu
mengalirkan tetes-tetes asa
dan senyum mentari kembali kan hangatkan pagi
menghadirkan dan menebar lagi bunga-bunga cinta

mengenangmu, jasmine
tak pernah mampu mengurai segala kebaikanmu
keramahan dan kelembutanmu
bahkan dalam sela ruang yang tak begitu jauh
aku tak pernah mampu menyentuh
hanya melontar kata-kata rindu
yang meletup-letup di permukaan kalbu
menggema di bawah alam sadarku
bergemuruh di dinding-dinding jiwaku

terlampau jauh rasa inginku
untuk kusandarkan lagi di indah kelopakmu
dulu menepikanmu begitu saja
kini merindumu begitu saja
tak pernah tahu bagaimana caraku mengimbanginya

barangkali dalam hidupku
engkau tetaplah sebuah puisi
yang diam namun bersenandung di dalam hati
tentang kisah-kisah lama yang pernah kita lalui
lantas senandungmu itu
akan jadi lagumu, laguku, lagu kita

jasmine...
keperkasaanmu kini telah kubaca
di mataku kau memang perempuan luar biasa
sejak dulu kau selalu ajarkan aku tentang itu
tak jemu-jemu
hingga kasihmu tetap memancar dalam sanubariku
menebar jutaan pesona indahmu
membuatku semakin menyadari
derap jejak kaki ini tak boleh terhenti di sini
tetap melangkah dan melangkah lagi
untuk masa depan pasti dan lebih berarti

peluklah rapuhku, bunga...

08 Juni 2010

Senin, 07 Juni 2010

Poris, 070610

tiba
dengan hampa segala
hampa jiwa
hampa rupa
hampa harta
tiada apa kupunya
pun tiada yang dapat kuberi

aku menepi
gontai menjejaki langkah kaki di muka bumi
di sisiku hanya ada melati
yang pernah menebar wangi sepelosok hati
hingga di ketika ini
kasihnya kurasa belum pernah berhenti
tapi kini ia punya mimpi
mimpinya sendiri
mimpi yang seakan memagari
mencerai diri di sedari pagi
di balik jeruji-jeruji besi
atau disekap terik mentari
barangkali

sungguh...
kurasa bahagia tak terkira
tak ada kecewa
tak ada kata tentang air mata
melainkan cerita cinta yang dulu membahana
menyelusup lorong-lorong jiwa
indah menghiasi dunia
nyata dari banyak hal yang paling nyata
begitulah adanya
kini mungkin bersisa fatamorgana
tapi tak menilas luka
di dalam dada
ia tetap rekah sebagai bunga
menebar aroma surga di perbatasan senja

kupikir...
dulu kini kita tiada beda, segalanya
masih utuh dan apa adanya
hanya aku yang tanpa daya
berkubang nestapa
terpuruk nelangsa
terselimut nista
jiwa merana
hati tak mampu bersabda
hampa
tapi bukan sia-sia

di ujung senja
tawa mengulum penuh pesona
aku enggan berpisah sebenarnya
karenanya aku masih ingin di sini
hanya saja
waktu mengalir sampai ke akhir sapa
memaksaku berundur diri secepatnya

sampai jumpa.....

07 Juni 2010

Minggu, 06 Juni 2010

Resah

detik yang begitu mencekik
menit yang begitu menghimpit
jam yang menghujam tajam
hari yang terus berlari
tiada jua kutemu peneduh hati
sementara waktu terus memburu
bertalu-talu
lelah ini kurasa makin tak terperi

diri seolah terbantai emosi
dikepung sunyi
kemudian pasrah ditelan pagi demi pagi

entah kapan waktu menyibak segenap harap
karena yang ada hanya sekat yang menyekap
menyimpan banyak penantian
merebahkan luka, menyandarkan kepiluan
menyesatkan nasib diri
menghempaskannya tanpa arah

lantas,
siapa lagi yang harus kutumpah resah
siapa lagi.....

06 Juni 2010

Sabtu, 05 Juni 2010

Lukislah...


lekas ambil penamu
lukis gumpalan awan hitam itu
dalam rancunya paduan warna sekali pun
dalam gelap penatnya pikir sekali pun
dalam hilangnya kepasrahan sekali pun

lukislah, sahabat...
lukislah yang seharusnya kau lukis
tuangkan saja segala itu
jika keraguan ada pada kanvas hidupmu
teriaklah atas keyakinan
yakin akan elok
yakin akan putih
yakin akan fitrah
lahir dari kekuatan hati
beralaskan serah diri

karena itulah sebuah guratan untuk hari lusa
kelak karyamu kau baca
kau lumat putih merahnya
kau cerna semua
jadikan kaca pada tiap titik tintanya

hingga kau lupa sebuah penuntun
pada suatu corak indah dan harmoni
yang tak ingkari nurani
maka, hapuslah risaumu
lalu, lukislah segera wahai sahabat...

-Gus Mufty
Fajar Pagi, 05 Juni 2010

Jumat, 04 Juni 2010

Rinduku di Sepanjang Jalanku

sejernih mata air tutur kata rindumu
menetes ke pucuk-pucuk kalbu
bertalu-talu
menyelusup pori-poriku
nurani jiwa menari
mencari-cari bayangmu
menjemputmu di semilirnya angin pagi
untuk menjumpaimu lagi
barangkali benar ada secuil rasa rindu
yang dapat kuraba di tempat itu

tak perlu menunda hingga esok tiba
agar segala yang kita punya
satu rasa jadinya
tak lagi menyisa resah berbalut desah

kau tahu
seutas bahagiaku ada di dirimu
sebait nada-nadaku ada dalam kebeningan kata-katamu
yang indah mengaliri sajak-sajakku

dan bila nanti benar-benar dipertemukan
aku ingin
dalam pelukku kau kurengkuh
lalu kau kubawa pergi dengan sayapku....

04 Juni 2010

Kamis, 03 Juni 2010

Mama Mia

mia...
berdiri di antara deretan tembok-tembok tinggi
ternyata tak mampu melumat setiap rindu yang datang
kepergianku, hanya melahirkan gemuruh nada-nada sumbang
entah, apa lagi yang mesti kulakukan
mungkin benar bahwa aku tak bisa
sungguh tak bisa
aku tak bisa melakukan apa yang seharusnya kulakukan

mia...
kini aku teringat kembali padamu
wajahmu datang membayang dalam benakku
tanpa kusadari, kenangan akan dirimu masih jua membekas
sedikit bahagia yang pernah kita rasa berdua
masih tersimpan di sela rapuhnya jiwa

seketika mengemuka tanya
masihkah kau rindukan aku, mia
saat kau sendiri di sudut ruang hampa
dengan senyum yang tak lagi berlagu
di hampar selimut memelukmu tanpaku?

atau barangkali,
kepergianku telah merenggut separuh bahagiamu
menghapus setengah keceriaan hari-harimu
kupikir, sungguh membosankan
aku pun demikian, mia
semua yang telah terjadi bukan karena mauku
seandainya bisa memilih
tak mungkin aku akan meninggalkanmu
tak mungkin

mia...
semua ini bukanlah sajak rindu semata
aku sungguh tak mampu menahan semua yang ada
membayangkan kau sendiri tanpaku di sana
mengiris perlahan setiap rasa yang mendenyut indah
aku harap kau mengerti, mia
aku tak ingin kau berubah
ini kata setiap hela nafas hidupku
aku serius, aku jenuh menulis rindu-rindu semu
aku hanya ingin menemuimu
memeluk tubuh mungilmu
melepas semua cinta yang sepanjang jalan ini seakan bisu
lalu kan kubisikkan sesuatu ke dalam telinga hatimu
aku janji, demi rasamu juga rasaku
takkan lagi kutinggalkan dirimu

mia, aku merindumu
aku pastikan kembali untukmu.....

03 Juni 2010

Rabu, 02 Juni 2010

Aku, Jiwa, dan Idealisasi

oh jiwaku...
malam ini tak perlu kita resah lagi, tenanglah
damaikan dirimu sebentar
hisaplah asap rokokmu dalam-dalam
tak lama lagi puisi ini akan jadi

percayalah,
tenanglah dulu di sini bersamaku
aku hanya akan sejenak memunguti kata-kata
mereka tercecer di sekeliling kita

aku masih ada beberapa batang rokok lagi
mungkin masih cukup untuk menghidupimu
untuk melahap sisa waktumu malam ini
dan menjadikan asapnya sebagai peretas puisiku nanti
yang memenuh teduh seisi pikir dalam hati
damailah kita sampai ke tepi pagi

aku janji, pasti akan kubuatkan puisi
puisi penghibur jiwa separuh mati
aku hanya sedang memunguti kata-kata kini
biar tak bersisa lagi

tunggulah.....

02 Juni 2010

Makna Cinta

syahdu, mengharu biru
pilu, menyayat-nyayat kalbu
inikah makna cinta yang sesungguhnya?.....

02 Juni 2010

Selasa, 01 Juni 2010

Fakir in Hope

ketergantunganku kini hanya kepada-Mu
jadikan jiwa ini untuk selalu menikmati suasana indah seperti itu
aku sungguh tak pernah jemu meminta kebaikan-Mu
tapi sayang,
putus asa kerap membantai segenap rasa
semangat hidup sirna
saat gagal menimpa
saat diri terjebak petaka

aku,
dengan segala keterbatasanku
begitu merasa teramat hina di hadap-Mu
tiada layak memaut hati akan kebesaran-Mu
sajak ini mungkin sekedar harapan hampa
sajak nista yang penuh dosa-dosa
tiada secuil apa pun daya

pinta hatiku dengan sangat
jauhkan ia dari bahaya godaan tak terperi
godaan yang telah menjauhkan diri dari peliharaan-Mu
sekaligus menghalang-halangiku dari rahmat-Mu
jangan lagi tanamkan putus asa dalam dadaku
aku sangat dambakan indah nafas masa depan
lahirkan terus semangat dalam setiap gerak naluri
jernihkan pikirku kembali tanpa henti
ridhai langkah-langkah kaki tertatih ini
antarkan ia ke tepian yang sejuk nan damai
jadikan hatiku setenang angin tanpa badai...

01 Juni 2010